Akhirnya saat-saat yang ditunggu anak-anak ku kelas 3 datang juga. Hari Sabtu, 16 Juni 2007 mereka sudah dapat melihat hasil kerja keras mereka selama 3 tahun di sekolah. Bagi mereka yang lulus sangat gembira dan bersuka cita karena kerja keras mereka membawakan hasil, namun bagi mereka yang tidak lulus mereka menangis karena tidak tahu harus berbuat apa. Mereka yang tidak lulus bingung harus kemana dan harus berbuat apa??? Apalagi bagi mereka yang tdak mampu, mereka tambah bingung, padahal mereka berharap setelah lulus mereka dapat bekerja dan membantu meringankan beban orang tua. Namun apa daya mereka harus menunda itu. Walaupun pemerintah memberikan kesempatan untuk mengikuti paket C namun mereka merasa belum siap, karena pelaksanaan paket C akan dilaksanakan pada hari selasa, 19 Juni 2007. Kenapa alternative yang diberikan pemerintah itu begitu cepat, kapan mereka akan belajar??? Melihat itu semua saya merasa terenyuh dan membayangkan kalau itu terjadi pada diri saya sendiri, kenapa sih kelulusan hanya ditentukan oleh 3 mata pelajaran (Matematika, Bhs Inggris, Bhs Indonesia) saja, kemana mata pelajaran lain????? Apakah begitu pentingnya 3 mata pelajaran itu dalam hidup. Untuk apa mata pelajaran agama, PPKn, Perkantoran, computer dll. Saya juga kadang merasa tidak adil, dan mungkin bukan hanya saya saja yang merasakan ketidak adilan itu. Banyak anak yang tidak lulus itu mereka berkelakuan baik, pintar, rajin, tekun dan tidak pernah bermasalah disekolah, nilai mata pelajaran lainpun baik. Tapi nasib mereka hanya ditentukan oleh 3 mata pelajaran. Sedangkan ada anak yang nakal, malas, bodoh dan bermasalah dengan nilain mata pelajaran yang lain pun kurang bahkan hanya pas-pasan saja tapi mereka lulus karena 3 mata pelajaran itu nilainya baik. Saya sering bertanya-tanya, kenapa pemerintah melihat kelulusan itu hanya pada 3 mata pelajaran itu saja, kenapa tidak juga dilihat dari sikap, moral, kedisiplinan, kerajinan, agama, keterampilan dll. Coba kita bayangkan ada siswa yang malas, nakal dan bodoh malah lulus sedangkan ada anak yang rajin, tidak nakal tidak lulus. Bisa dibayangkan apa yang akan mereka pikirkan terutama adik-adik kelas mereka pasti akan berpikir “yang malas aja bisa lulus, ngapain rajin-rajin ga lulus ya ga lulus juga”. Padahal ketika mereka terjun kedunai kerja perusahaan tidak hanya menerima orang dari nilainya saja tapi mereka menerima pegawai dari sikap, moral, kerajinan dll.Pengalaman saya ketika bekerja bos saya sering bilang kita cari pegawai bukan yang pintar tapi yang mau kerja dan yang rajin. Artinya disini percuma kita menerima pegawai pintar tetapi malas, mendingan orang itu tidak pintar tetapi mau kerja dan rajin. Saya berharap agar syarat kelulusan bisa direvisi tidak hanya pada 3 mata pelajaran (Matematika, Bhs Inggris, Bhs Indonesia) saja tapi harus juga mempertimbangkan moral, agama dan keterampilan. Atau kembalikan system kelulusan seperti dulu lagi, dikembalikan kedewan guru. Mereka yang lebih tahu kemampuan, sikap dan perilaku anak didiknya. Semoga harapan ini dapat segera terwujud sehingga anak-anak lebih termotivasi dalam belajar. AMIN!!!!!







Betul sekali bu….jangan hanya pembelajaran yang telah di jalani selama 3 tahun itu, pupus gara-gara 3 mata pelajaran yang hanya di tentukan 3 tahun,…bisa jadi siswa nantinya hanya menarget angka kelululusan dari materi yang di UN kan,….sedangkan materi di anggap tidak perlu untuk dipelajari……tapi gak tahulah bu….kita kan cuma agen pendidikan,…semua ada sistem yang mengaturnya mau,..gak mau kita harus nurut saja pada sistem itu yang kadang-kadang terasa tak adil bagi kita?……pendidikan kita mau jadi apa ya????…….ah tanyakan saja pada pak mentri pendidikan saja kali…..karena dia kan yang membuat kebijakan ini??……
tanyain dong, siapa tahu aja kalau dengan sesama lelaki takut jadi berubah pikiran, he he he
Tulisan di atas dapat dilengkapi dengan tulisan saya di
http://deni3wardana.wordpress.com/2007/06/17/hasil-un-yang-membingungkan/
Ahli-ahli pendidikan ni, hayo kasih gagasan donk…bagaimana supaya pendidikan di Indonesia bisa bagus.
Simple kok…..gratisin tuh pendidikan & jangan ubah2 sisitem yang sudah ada dan baku…… yang harus diubah mah budgetnya…..
tulisan yg bagus … goood
Semangat buat guru-guru di Indonesia
tanpamu aku takkan bisa melanjutkan kuliah di Universitas
Bravo pendidikan indonesia
Salam kenal